PATI – Ribuan warga memadati ruas Jalan Raya Sarirejo, Jalan Pantura Pati-Juwana, Jalan Tombronegoro, hingga kawasan Kantor Bupati Pati, Kamis (7/8/2025) siang hingga sore. Antusiasme masyarakat tumpah ruah demi menyaksikan prosesi Kirab Boyongan, puncak peringatan Hari Jadi ke-702 Kabupaten Pati.
Kirab Boyongan merupakan agenda sakral yang hanya digelar lima tahun sekali. Prosesi ini menjadi simbol tonggak sejarah lahirnya Kabupaten Pati, mengulang peristiwa bersejarah tahun 1323, ketika pusat pemerintahan dipindahkan dari Pendopo Kemiri di Desa Sarirejo ke Desa Kaborongan, lokasi pendirian Pendopo Kabupaten Pati saat ini.
Peristiwa boyongan itu diyakini sebagai momentum perubahan status Pati dari Kadipaten menjadi Kabupaten. Momentum ini kemudian dikukuhkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 2 Tahun 1994, yang menetapkan 7 Agustus 1323 sebagai Hari Jadi Kabupaten Pati.
Prosesi diawali dari Genuk Kemiri, ditandai dengan pengambilan air suci oleh Kepala Desa Sarirejo dan juru kunci, serta disambut penampilan tari tradisional Eka Prawira dan Bedhaya. Setelah doa bersama dan gelar bregodo, rombongan kirab bergerak menyusuri rute panjang yang melintasi Jalan Pemuda, Alun-Alun Pati, hingga berakhir di Kantor Bupati.
Sepanjang rute kirab, peserta mengenakan busana adat dan membawa pusaka simbolik dari tiga kadipaten cikal bakal Pati: Mojosemi, Paranggaruda, dan Carangsoka. Warga yang memadati trotoar menyambut iring-iringan dengan penuh semangat, mengabadikan momen langka ini dengan kamera ponsel mereka.
Bupati Pati H. Sudewo dan istrinya, Atik Kusdarwati, menjadi sorotan utama. Keduanya menaiki kereta kencana dengan balutan busana agung kanigaran. Mereka didampingi Wakil Bupati Risma Ardhi Chandra, jajaran Forkopimda, pimpinan DPRD, OPD, camat, serta tokoh masyarakat, pelajar, dan pegiat budaya.
Rangkaian kirab makin semarak dengan pawai marching band, duta budaya, pasukan Paskibra, sanggar seni, serta prajurit simbolik dari berbagai desa di Kabupaten Pati.
Sesampainya di Pendopo Kabupaten, acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni tradisional seperti Gongcik, Tari Golek Mugi Rahayu, serta pembacaan suluk oleh dalang sebagai peneguh nilai-nilai spiritual dan budaya lokal.
Dalam sambutannya yang disampaikan dalam Bahasa Jawa, Bupati Sudewo menegaskan pentingnya menjaga warisan sejarah.
“Kirab ini adalah simbol perjalanan sejarah Kabupaten Pati, dan harus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga identitas dan nilai-nilai budaya lokal,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk menghayati makna dari kegiatan yang hanya berlangsung lima tahun sekali ini, sebagai wujud cinta dan penghormatan terhadap tanah kelahiran.
Sebagai penutup, dilakukan penanaman pohon ringin dan prosesi selametan sebagai simbol harapan dan doa bagi masa depan Kabupaten Pati yang lebih baik, harmonis, dan sejahtera.










