Dari Sayembara Sunan Muria hingga Nama Desa Rendole, Jejak Sejarah Pintu Majapahit

banner 728x60

PATI – Pintu Gerbang Majapahit yang berada di Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, menyimpan kisah panjang yang berkaitan erat dengan sejarah Desa Rendole.

Hal itu disampaikan oleh Zaky Aftoni, petugas Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X, saat mengulas kembali cerita rakyat yang berkembang di sekitar situs bersejarah tersebut.

Menurut Zaky, cerita yang turun-temurun diceritakan warga menyebutkan bahwa dulunya juru kunci pintu ini adalah Bapak Santoso atau yang akrab disapa Mbah So.

Kisahnya berawal dari perjalanan Sunan Muria yang hendak kembali ke padepokannya di Gunung Muria. Saat itu, wilayah sekitar masih berupa rawa sehingga tidak bisa diseberangi.

Sunan Muria kemudian membuat sayembara: siapa pun yang dapat menyeberangkannya akan dijadikan saudara jika laki-laki, atau istri jika perempuan.

“Di seberang rawa ada Dewi Sapsari yang sedang menggembala kerbau. Ia menyuruh Sunan Muria naik ke punggung kerbaunya hingga bisa diseberangkan. Sunan Muria menepati janjinya dengan menikahi Dewi Sapsari setelah meminta restu ayahnya, Raden Sebo Menggolo,” jelas Zaky.

Dari pernikahan itu lahirlah Raden Bambang Kebo Nyabrang. Namun, Dewi Sapsari wafat usai melahirkan sehingga putranya diasuh sang kakek. Saat dewasa, Bambang Kebo Nyabrang mencari ayahnya. Untuk membuktikan dirinya sebagai anak Sunan Muria, ia diberi syarat membawa Pintu Bajang Ratu dari Trowulan, Mojokerto, ke Gunung Muria.

Namun, perjalanan tersebut tidak mudah. Raden Ronggo, murid Sunan Ngerang, juga menginginkan pintu itu demi mempersunting Roro Pujiwat, putri Sunan Ngerang.

“Akhirnya terjadi pertempuran antara Bambang Kebo Nyabrang dan Raden Ronggo di kawasan ini. Karena tidak ada yang menang, Sunan Muria turun dan mengakui Bambang Kebo Nyabrang sebagai putranya,” tutur Zaky.

Legenda ini juga melahirkan sejumlah nama tempat di Pati. Kisah hilangnya Roro Pujiwat setelah dihantam tongkat Raden Ronggo diyakini menjadi asal-usul nama Jembatan Segelap di Juwana. Sementara kalimat Sunan Muria, “Lereno, Padoban Dole” (berhentilah, wahai anak), diyakini menjadi asal mula nama Desa Rendole.

Zaky menegaskan, meskipun pintu tersebut memiliki kaitan erat dengan kisah asal-usul Desa Rendole, secara bentuk arsitektur pintu itu bukanlah pintu gerbang utama Majapahit.

“Dilihat dari ukurannya, ini lebih mirip pintu kaputren (area putri). Pintu utama seharusnya besar dan dapat dilewati kereta,” ujarnya.

Karena memiliki nilai sejarah tinggi, Zaky berharap ada perhatian serius terhadap keberadaan pintu tersebut.

“Saat ini minat masyarakat, terutama anak-anak sekolah maupun pengunjung dari luar kota, semakin menurun. Kebanyakan anak-anak sekarang lebih tertarik pada lokasi wisata yang bisa dijadikan tempat berfoto,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kondisi pintu yang terbuat dari kayu dengan bagian bawah dari tanah membuat perawatannya cukup sulit.

“Jangan sampai peninggalan bersejarah ini hilang ditelan zaman. Kami berharap ke depan ada upaya perawatan lebih gencar, agar generasi mendatang masih bisa menyaksikan dan mengenal sejarah ini,” pungkas Zaky.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *