PATI, infobaroe.com – Pagelaran Sandiwara Kethoprak “KRIDHO CARITO” yang mengangkat kisah sejarah dan tokoh leluhur Pati dinilai menjadi contoh bagaimana ruang publik dapat dimanfaatkan untuk menjaga identitas budaya daerah.
Ketua Komisi C DPRD Pati Joni Kurnianto mengatakan pengembangan Alun-Alun Kembangjoyo sebaiknya tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga memperkuat fungsi kawasan sebagai ruang kebudayaan.
“Kalau kita punya kawasan seperti Kembangjoyo, jangan hanya dibangun secara fisik. Identitas Pati juga perlu ditampilkan di sana,” kata Joni saat menghadiri pagelaran tersebut, Senin malam (31/8/2026).
Menurutnya, cerita mengenai Ki Ageng Penjawi dan Mbah Wasis Joyokusumo yang turut disinggung dalam pagelaran menjadi bagian penting dari sejarah yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.
Ia menilai seni pertunjukan seperti kethoprak memiliki kelebihan karena sejarah dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah diterima masyarakat.
“Sejarah jangan hanya tersimpan di buku. Kethoprak bisa menjadi cara untuk membuat anak-anak muda tertarik mengenal leluhurnya dan mengetahui perjalanan daerahnya,” ujarnya.
Joni berharap renovasi Kembangjoyo nantinya dapat menyediakan ruang yang mendukung kegiatan seni dan budaya.
“Kembangjoyo bisa menjadi tempat orang berkumpul, berdagang, berwisata sekaligus mengenal budaya Pati. Kalau semua itu bisa berjalan bersama, nilai kawasan ini akan jauh lebih besar,” jelasnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya juga dapat memberikan dampak ekonomi apabila dikembangkan secara konsisten.
“Budaya hidup, masyarakat datang, UMKM bergerak, PKL mendapatkan manfaat. Jadi kebudayaan juga bisa menjadi bagian dari penggerak ekonomi daerah,” pungkasnya.
(ADV)




