PATI – Sosok perempuan asal Kabupaten Pati ini menjadi sorotan karena kegigihan dan ketekunannya dalam menjalani dua profesi sekaligus. Ia adalah Nyawintari (35), seorang guru sekaligus pendiri kedai susu ternama “Soenan Milk” yang kini menjadi salah satu ikon minuman sehat di Kabupaten Pati.
Dikenal sebagai Bu Tari, ia memulai usahanya sejak 2012. Berawal dari kedai keliling bermodal tenda bongkar-pasang, usahanya perlahan berkembang hingga kini berdiri secara semi permanen di Jalan Makam Pahlawan, Sekarkurung, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo. Soenan Milk buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 23.00 WIB.
Kedai ini terkenal dengan sajian aneka minuman berbahan dasar susu fresh milk yang dikreasikan menjadi berbagai varian rasa sehingga disukai pelanggan. Menurutnya, susu adalah minuman sehat yang dapat dinikmati semua kalangan.
“Ketika dulu mau nongkrong gak ada tempat asyik, kami ambil peluang. Responnya luar biasa karena belum ada kedai susu di Pati. Dari 2012 sampai setahun, tiap hari bongkar pasang tenda bersama suami,” tuturnya kepada suarakabar.co.id.
Meski kini banyak bermunculan coffee shop dan kedai kekinian dengan konsep variatif, Tari tetap mempertahankan identitas utama Soenan Milk sebagai kedai susu murni. Bahkan awalnya ia sendiri tidak menyukai susu, namun justru mencari formula agar susu dapat dinikmati dengan nikmat tanpa bau amis.
“Awalnya saya gak doyan susu. Susu original itu kerasa amis. Akhirnya saya mix biar hilang amisnya,” ujarnya.
Selain menjual secara konvensional di kedai, Tari juga memasarkan produknya secara online. Ia kerap membuka stand di sekolah-sekolah hingga pusat keramaian. Setiap Kamis, ia hadir di SDN Pati Lor melalui program ‘Kamis Manis’, dan pada akhir pekan sering berjualan di Stadion Joyokusumo maupun Car Free Day.
Konsep live music yang kini ramai di kedai-kedai Pati juga disebutnya berawal dari Soenan Milk. Sejak 2012, ia menjadi salah satu pelaku usaha kuliner yang bertahan hingga kini, meski banyak kedai seangkatan yang berguguran diterpa perubahan zaman.
“Seangkatan saya yang bertahan hanya kami sampai sekarang. Memulai itu tidak sulit, mempertahankan yang sulit,” jelas guru SDN Pati Lor 02 itu.
Perjalanan Tari tidak selalu mulus. Sebagai perintis yang memulai usaha dari nol, ia harus menempuh berbagai tantangan. Mengingat sulitnya mencari modal, ia dan suami bahkan rela menjual cincin pernikahan demi membuka kedai susu pertamanya.
“Waktu itu saya masih honorer, suami kerja serabutan. Cari pinjaman susah, gak ada yang percaya. Jalan satu-satunya ya jual cincin pernikahan,” ujarnya mengenang masa sulit.
Selain persoalan modal, ia juga kerap mengalami perpindahan lokasi karena tempat sewa yang tidak stabil. Mulai dari Randukuning, pindah ke Juwanalan pada 2014–2019, hingga akhirnya berpindah lagi karena pemilik bangunan meninggal dan ahli waris ingin menjual tempat tersebut. Bahkan saat berjualan di dekat Kantor Damkar, kedainya beberapa kali digusur Satpol PP, terutama saat pandemi Covid-19.
Namun, Tari tidak menyerah. Setelah persiapan selama satu tahun, kini dirinya kembali membangun kedai Soenan Milk di lokasi terbaru yang lebih representatif.
“Kita ada layanan delivery, jemput bola free ongkir. Saya punya banyak kontak pelanggan. Tidak hanya makan di tempat, tapi bisa pesan lewat berbagai marketplace,” ungkapnya.
Tari berharap Soenan Milk dapat terus diminati masyarakat. Ia meyakini bahwa susu adalah minuman yang baik untuk kesehatan dan bisa dinikmati semua usia.
“Harapannya susu tetap diminati masyarakat Pati yang kadang fomo. Susu itu bagus untuk kesehatan, semua kalangan bisa minum, dari anak kecil sampai orang tua,” tandasnya.
Dengan perjalanan panjang penuh perjuangan, kiprah Nyawintari menjadi bukti bahwa memulai tidak harus menunggu sempurna. Yang terpenting, berani melangkah dan konsisten mempertahankan apa yang telah dibangun.










