PATI, infobaroe.com – Perubahan cuaca dan pergeseran musim menjadi perhatian dalam upaya menjaga hasil pertanian di Kabupaten Pati. Menyikapi kondisi tersebut, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah memberikan pembekalan kepada petani melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik yang berlangsung di Balai Desa Raci, Kecamatan Batangan, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan dengan tema “Cerdas Membaca Iklim, Tangguh Wujudkan Ketahanan Pangan” ini difokuskan pada peningkatan kemampuan petani dalam memahami informasi iklim agar dapat menentukan langkah pertanian secara lebih terencana dan mengantisipasi kemungkinan gagal panen.
Acara tersebut diikuti puluhan petani dari sejumlah kecamatan dan dihadiri Koordinator BMKG Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto, Anggota Komisi V DPR RI Haryanto, Camat Batangan, Kepala Bidang PTPU Dinas Pertanian Kabupaten Pati, serta Kepala Desa Raci.
Koordinator BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan pemanfaatan informasi iklim dapat membantu petani menyesuaikan kegiatan budidaya dengan perkembangan kondisi alam. Karena itu, BMKG berupaya memberikan pemahaman yang praktis sehingga informasi yang tersedia dapat digunakan secara langsung dalam aktivitas pertanian.
Ia menilai, petani tidak cukup hanya mengandalkan perkiraan musim berdasarkan kebiasaan tahun-tahun sebelumnya. Perubahan kondisi iklim perlu menjadi pertimbangan agar keputusan mengenai waktu tanam dan pengelolaan lahan tidak berujung pada kerugian.
Meski demikian, Goeroeh menegaskan bahwa pengetahuan tradisional masyarakat, termasuk ilmu titen dan pranata mangsa, tetap memiliki tempat dalam praktik pertanian. Kearifan lokal tersebut dapat dikombinasikan dengan data ilmiah dari BMKG untuk menghasilkan pertimbangan yang lebih menyeluruh.
Dalam kondisi musim yang normal, pedoman tradisional masih dapat dimanfaatkan. Namun, ketika terjadi kemarau yang lebih kering atau perubahan pola musim, petani perlu menyesuaikan langkah berdasarkan informasi iklim terbaru.
Pada kesempatan itu, BMKG juga memaparkan prakiraan awal musim hujan di Kabupaten Pati. Masyarakat diingatkan bahwa turunnya hujan di beberapa tempat tidak serta-merta menunjukkan bahwa musim hujan telah dimulai di seluruh wilayah.
Wilayah selatan Kabupaten Pati diperkirakan memasuki musim hujan pada awal Desember 2026. Sementara itu, sebagian wilayah utara diprediksi baru menyusul pada pertengahan Desember. Adapun akhir November masih termasuk periode peralihan musim.
Selain prakiraan musim, BMKG menyediakan informasi iklim dalam berbagai rentang waktu, mulai dari tahunan, musiman, bulanan, hingga dasarian atau setiap sepuluh hari. Informasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun rencana kegiatan pertanian.
Petani juga memperoleh pembekalan mengenai cara mengakses informasi cuaca untuk mendukung pekerjaan sehari-hari di lahan. Data cuaca, misalnya, dapat membantu menentukan waktu yang lebih sesuai untuk melakukan penyemprotan pestisida maupun pemupukan.
Goeroeh berharap petani semakin aktif memanfaatkan layanan informasi BMKG, termasuk melalui bantuan penyuluh pertanian. Dengan demikian, informasi cuaca dan iklim dapat menjadi salah satu dasar dalam mengambil keputusan, bukan sekadar informasi yang diketahui tanpa penerapan di lapangan.
Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI Haryanto menyampaikan bahwa edukasi mengenai iklim perlu dilakukan secara berkelanjutan. Ia menyebut pihaknya telah mendukung pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim Tematik dan Sekolah Lapang Cuaca di Kabupaten Pati selama dua tahun berturut-turut.
Menurut Haryanto, penguatan pengetahuan petani menjadi penting karena Kabupaten Pati turut berkontribusi terhadap ketahanan pangan di tingkat Jawa Tengah maupun nasional. Kemampuan menghadapi perubahan musim dinilai menjadi salah satu faktor pendukung keberlanjutan produksi pertanian.
Desa Raci dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas pertanian. Selain petani dari Kecamatan Batangan, kegiatan tersebut juga menjangkau peserta dari Kecamatan Juwana, Jakenan, Tlogowungu, dan sekitarnya.
Haryanto berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan dengan jangkauan yang lebih luas pada masa mendatang. Penambahan jumlah kegiatan dinilai dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak petani untuk mendapatkan pengetahuan mengenai iklim dan penerapannya dalam budidaya.
Ia juga mendorong agar pengalaman bertani yang diwariskan secara turun-temurun tetap dipertahankan, sekaligus dilengkapi dengan hasil pelatihan dan perkembangan informasi meteorologi.
Melalui Sekolah Lapang Iklim Tematik ini, petani diharapkan semakin siap menghadapi perubahan pola musim. Kolaborasi antara BMKG, pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani diharapkan mampu mendukung pengelolaan pertanian yang lebih adaptif, mengurangi risiko kerugian, serta menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Pati.




