PATI – Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal menjadi benteng utama dalam menjaga identitas daerah di tengah gempuran globalisasi. DPRD Kabupaten Pati mengingatkan bahwa hilangnya ketertarikan generasi muda terhadap tradisi asli merupakan sinyal lampu kuning bagi ketahanan budaya daerah.
Sekolah sebagai institusi formal dituntut mengambil peran lebih besar dalam mengintegrasikan nilai-nilai tradisi ke dalam aktivitas belajar mengajar. Pengenalan seni daerah tidak boleh sekadar menjadi pelengkap mata pelajaran, melainkan harus dikemas sebagai pengalaman praktis yang menyenangkan bagi siswa.
Anggota Komisi A DPRD Pati dari Fraksi Gerindra, Adam Maulana, menegaskan pentingnya menanamkan rasa kepemilikan terhadap budaya daerah sejak usia dini agar anak-anak tidak kehilangan arah di masa depan.
“Kalau generasi muda tidak dikenalkan sejak dini, lama-kelamaan mereka akan asing dengan budayanya sendiri. Padahal budaya lokal adalah identitas yang membedakan kita dengan daerah lain,” tegasnya secara lugas.
Menurut Adam, kesenian asli Bumi Mina Tani seperti wayang kulit, ketoprak, barongan, maupun wayang topeng memiliki muatan edukasi yang sangat tinggi. Di dalam ditiap lakon pementasan terkandung pesan moral, nilai filosofis, dan sejarah daerah yang penting bagi pembentukan mental generasi muda.
Guna mewujudkan hal tersebut, Komisi A mendorong penguatan alokasi program kerja pada dinas terkait untuk mendukung festival seni antarpelajar secara berkala. Langkah ini dinilai efektif sebagai sarana pembibitan dan regenerasi pelaku seni masa depan.




