PATI – Arus digitalisasi yang begitu deras menjadi tantangan terbesar bagi keberlangsungan kesenian tradisional di Kabupaten Pati. Minimnya representasi seni lokal di ranah digital membuat generasi muda lebih akrab dengan budaya populer luar ketimbang warisan leluhur mereka sendiri.
Fenomena ini memicu kekhawatiran dari kalangan legislatif yang menilai ruang pengenalan budaya masih sangat konvensional. Jika konten seni tradisi tidak segera bertransformasi ke dalam format digital yang menarik, dikhawatirkan eksistensi kebudayaan daerah akan semakin terisolasi dari dunia luar.
Anggota Komisi A DPRD Pati dari Fraksi Gerindra, Adam Maulana, menilai fenomena tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada generasi muda. Pola pendekatan dan media pengenalan seni tradisional dinilai perlu dirombak total agar relevan dengan perkembangan zaman.
“Anak-anak muda hari ini hidup di era digital. Mereka setiap hari disuguhi berbagai konten modern. Karena itu, budaya lokal juga harus mampu hadir di ruang yang sama agar tetap dikenal dan dicintai,” ujar Adam saat ditemui di ruang paripurna DPRD Pati.
Adam memaparkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya mengandalkan pementasan seremonial di panggung-panggung fisik. Otoritas terkait bersama komunitas kreatif harus mulai melirik pembuatan konten berbasis video pendek, infografis sejarah, hingga pemanfaatan algoritma media sosial sebagai sarana promosi.
Parlemen berharap pemerintah daerah bisa menjembatani kerja sama antara pelaku seni senior dan konten kreator muda di Pati. Sinergi ini diharapkan mampu mengemas keindahan seni pewayangan maupun ketoprak menjadi tontonan digital yang edukatif, menghibur, dan diminati milenial.




