PATI, infobaroe.com – Rencana Pemerintah Kabupaten Pati menggelar pertunjukan ketoprak dengan melibatkan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta anggota DPRD mendapat apresiasi dari kalangan legislatif.
Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Pati dari Fraksi PKS, Sutrisno, menilai konsep tersebut dapat menjadi cara menarik untuk menghidupkan kembali kesenian tradisional sekaligus menghadirkannya lebih dekat dengan masyarakat.
Rencana pagelaran ketoprak tersebut sebelumnya disampaikan Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra setelah menyaksikan Pagelaran Seni Wayang Orang “Ampak-Ampak Ngalengko” dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Pati ke-703 dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Pertunjukan ketoprak direncanakan digelar pada momentum pergantian tahun di Alun-Alun Kabupaten Pati. Menurut Sutrisno, pemanfaatan ruang publik menjadi pilihan tepat karena memungkinkan masyarakat dari berbagai lapisan menikmati kesenian daerah secara langsung.
“Ketoprak di ruang publik seperti alun-alun bisa menjadi tontonan yang sekaligus mengenalkan kembali budaya daerah. Masyarakat bisa menikmati hiburan, sementara nilai-nilai budaya yang ada di dalam pertunjukan tetap tersampaikan,” ujar Sutrisno.
Ia menilai keikutsertaan pejabat daerah dan anggota DPRD dalam pertunjukan juga dapat menciptakan suasana yang berbeda. Para pejabat tidak hanya hadir sebagai tamu atau penonton, tetapi ikut berinteraksi melalui panggung kesenian bersama masyarakat.
Bagi Sutrisno, pola tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan antara pemimpin daerah dengan warga. Selain itu, keterlibatan berbagai unsur juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama.
“Ketika pejabat ikut tampil, ada pesan bahwa budaya bukan sesuatu yang hanya menjadi urusan seniman. Semua elemen bisa ikut menjaga. Ini juga bisa membuat masyarakat merasa lebih dekat dengan para pemimpinnya,” katanya.
Lebih jauh, Sutrisno berharap pertunjukan tersebut dapat memberikan panggung bagi seniman lokal. Menurutnya, momentum pergantian tahun dapat sekaligus dimanfaatkan untuk memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda.
“Yang perlu kita jaga adalah keberlanjutannya. Kalau masyarakat mendapat lebih banyak kesempatan melihat pertunjukan tradisional, anak-anak muda juga akan semakin mengenal kesenian daerahnya,” jelasnya.
Ia mendorong pemerintah daerah bersama DPRD menyusun agenda kebudayaan secara berkelanjutan dengan melibatkan komunitas seni dan pelaku budaya Pati. Dengan demikian, kesenian tradisional tidak hanya muncul saat peringatan tertentu, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.
“Harapannya ketoprak ini menjadi awal untuk semakin banyak ruang bagi seniman Pati. Pemerintah, DPRD dan masyarakat bisa bersama-sama menjaga agar kesenian tradisional tetap hidup dan memiliki generasi penerus,” pungkasnya.
(ADV)




