Plaza Pragola Pati Kian Sepi, Pedagang Bertahan Hidup di Tengah Harapan

banner 728x60

PATI – Sepinya aktivitas di Plaza Pragola Pati selama bertahun-tahun membuat para pedagang gulung tikar satu per satu. Dari puluhan pedagang yang pernah mengisi kawasan tersebut, kini hanya tersisa sekitar tiga orang yang masih bertahan, meski dengan penghasilan jauh dari kata layak.

Salah satu pedagang yang masih bertahan adalah Leginah (69), penjual makanan yang berjualan di sisi barat luar Pasar Pragola. Setiap hari, ia lebih banyak menunggu pembeli dibanding melayani transaksi jual beli.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Sehari itu belum tentu laku satu piring. Masak beras dua gelas saja belum tentu habis,” tutur Leginah dengan suara lirih, Senin (5/1/2026).

Ia mengungkapkan, kondisi sepi mulai dirasakan sejak pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, sejumlah pintu gerbang Plaza Pragola ditutup dan hingga kini belum kembali dibuka. Kebijakan tersebut, menurutnya, membuat kawasan yang dulu dikenal sebagai pusat oleh-oleh Kabupaten Pati kini bak tak berpenghuni.

“Orang enggak tahu kalau di sini ada warung yang buka. Pintu ditutup, saya di belakang. Enggak ada yang lewat,” keluhnya.

Di tengah keterpurukan usaha, Leginah juga masih dibebani cicilan pinjaman modal usaha di bank yang diambil sebelum pandemi. Meski penghasilan nyaris tak ada, ia tetap berusaha memenuhi kewajiban agar tidak tercatat menunggak.

“Takut kalau nanti butuh lagi tapi punya catatan jelek. Jadi saya tetap berusaha bayar,” ujarnya.

Dengan kondisi yang serba sulit, Leginah mengaku tidak menuntut banyak. Ia hanya berharap ada solusi konkret agar warung-warung di Plaza Pragola kembali hidup dan mendapat pembeli. Salah satunya dengan membuka kembali akses gerbang plaza serta mengadakan kegiatan secara rutin.

“Saya mohon sama Bapak Bupati Pati, Sudewo. Kasihan warung-warung di sini. Sekali-sekali ada acara, sebulan dua atau tiga kali saja sudah alhamdulillah,” harapnya.

Ia juga menyoroti kebijakan saat digelarnya kegiatan atau hajatan di area Plaza Pragola. Menurutnya, konsumsi kerap didatangkan dari luar atau melibatkan pedagang luar, sehingga pedagang yang berada di dalam plaza tidak merasakan dampak ekonomi.

“Padahal di sini sudah ada warung. Harusnya ya dari dalam sini,” pungkasnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *