PATI, infobaroe.com – Kekeringan panjang di Kabupaten Pati dinilai mulai memberikan efek berantai terhadap masyarakat pedesaan, termasuk sektor pertanian dan peternakan.
Sekretaris Komisi B DPRD Pati dari Fraksi Demokrat, Mukit, mengatakan penanganan kekeringan harus memperhitungkan dampak ekonomi masyarakat.
“Ketika air sulit didapat, yang terdampak bukan hanya kebutuhan rumah tangga. Petani, peternak dan pelaku usaha di desa juga ikut merasakan dampaknya,” ujarnya.
Data Pemkab Pati menunjukkan kekeringan telah berdampak terhadap 40 desa di 10 kecamatan dengan luas lahan sekitar 1.700 hektare. Di sisi lain, BPBD mencatat 45 kejadian kebakaran lahan di 38 desa sejak akhir Juli hingga September 2026.
Mukit meminta penanganan tidak berhenti pada pengiriman air bersih.
“Bantuan air memang penting untuk kebutuhan mendesak. Tetapi pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan selama kemarau,” katanya.
Menurutnya, petani dan peternak membutuhkan kepastian akses air agar kerugian ekonomi tidak semakin besar.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam menggunakan api di sekitar lahan pertanian.
“Jangan sampai kekeringan yang sudah berat ditambah dengan kebakaran lahan. Kerugiannya akan semakin besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Mukit menilai pemetaan wilayah terdampak menjadi penting agar bantuan pemerintah dapat diberikan berdasarkan tingkat kebutuhan masing-masing daerah.
(ADV)




