PATI, infobaroe.com — Musim kemarau panjang yang identik dengan meningkatnya produksi garam justru belum mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh petani di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Kendala pasokan air laut menjadi salah satu faktor yang menghambat aktivitas produksi.
Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Pati, Bambang Susilo, mengatakan kondisi cuaca yang panas memang menjadi salah satu faktor pendukung proses pembuatan garam. Namun, tanpa ketersediaan air laut yang cukup, proses produksi di tambak tetap tidak dapat berjalan optimal.
“Secara teori kemarau dan cuaca panas memang dibutuhkan untuk produksi garam. Tetapi kalau bahan bakunya, yaitu air laut, tidak bisa masuk ke tambak, tentu produksi juga tidak berjalan,” kata Bambang.
Berdasarkan kondisi di lapangan, lebih dari 300 hektare tambak garam di wilayah Batangan terdampak rendahnya permukaan dan pasang air laut. Akibatnya, sebagian lahan belum dapat digunakan untuk produksi secara maksimal.
Sejumlah petani bahkan menyampaikan bahwa persoalan kekurangan pasokan air pada musim kemarau tahun ini dirasakan lebih berat dibandingkan periode sebelumnya.
Bambang menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan produksi garam tidak hanya bergantung pada faktor cuaca. Infrastruktur yang mendukung ketersediaan bahan baku juga perlu mendapat perhatian pemerintah.
“Kalau cuaca sudah mendukung tetapi air tidak tersedia, petani tetap tidak bisa memproduksi. Artinya infrastruktur pengairan juga harus menjadi perhatian,” ujarnya.
Ia mendorong organisasi perangkat daerah terkait melakukan pengecekan langsung terhadap saluran-saluran yang menjadi jalur masuk air laut menuju kawasan tambak.
Pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk mengetahui apakah terdapat saluran yang mengalami pendangkalan, penyempitan, atau kendala lain yang menghambat aliran air laut.
Menurut Bambang, penanganan jaringan pengairan sebaiknya tidak dilakukan hanya ketika produksi sudah terganggu. Pemerintah perlu menyiapkan langkah yang lebih terencana agar kawasan tambak memiliki sistem pengairan yang mampu mendukung produksi, termasuk ketika menghadapi kondisi pasang air laut yang rendah.
Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, ia berharap petani garam di Batangan dapat lebih optimal memanfaatkan musim kemarau untuk meningkatkan produksi dan menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
(ADV)




